BAROMETER KEPRI
Sabtu, 16 Mei 2026, Mei 16, 2026 WIB
Last Updated 2026-05-16T09:20:14Z
Berita KepriNews

Rini Lisbeth Sitio Ajak "Nobar", Diskusi Bersama Aktivis, Tokoh Pemuda Katholik Batam Nilai Film Dokumenter " Pesta Babi "

.


 

Barometerkepri.com | Batam, GERAKAN ANGKATAN MUDA KRISTEN INDONESIA (GAMKI) Kota Batam menggelar nonton bareng film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita, yang diproduksi oleh Dandhy Laksono dan Cypri Paju Dale.Film ini menyoroti dampak proyek strategis nasional dengan pengerahan militer sebanyak 56.000 tentara hingga 83.000 tentara dan 26.600 polisi terhadap PSN dan masyarakat adat dan hutan di Papua Selatan.


Nobar dan diskusi yang diselenggarakan oleh GAMKI kota Batam ini menghadirkan beberapa penanggap sebagai pemantik diskusi, tentu yang pertama seoarang Srikandi Batam Ketua GAMKI kota Batam Rini Lisbeth Sitio, Ketua Pemuda Katolik Batam Roy Manik, Direktur LBH Mawar Saron Rio Ferdinan Turnip, Ketua PND HKBP Kepri Gomgom Simanjuntak dan seorang aktivis yang notabene anggota DPRD Batam 2014-2019 dan anggota DPRD Kepri 2019-2024 yang selalu dengan lantang  memperjuangkan masyarakat kecil di Batam dan Kepri Uba Sigalingging, yang dilaksanakan di KdK cafee, Batam Centre, Kamis (14/05/2026).


Sekretaris GAMKI yang sekaligus membawa acara, Irfandi Silitonga dalam pengantarnya sebelum film diputar mengatakan bahwa kegiatan ini dilaksanakan berangkat dari keresahan bersama sebagai bentuk solidaritas untuk masyarakat di Papua.


Dalam ruang diskusi tersebut, Ketua GAMKI Batam, Rini Lisbeth Sitio menyoroti dari sisi ekonomi yang sangat mendistrak pikiran kita, 10 perusahaan ( dua diantaranya yang mengalami kenaikan omset 700% hingga 4000%) yang mendapatkan konsesi lahan yang begitu luas untuk PSN tersebut dan dimiliki oleh 1 keluarga, ini template yang sering terjadi di di kalangan elite, mereka berpesta diatas penderitaan masyarakat adat papua, dan melihat situasi masyarakat papua tsb, saya sangat notif dengan statement ibu Filomina yang menyatakan bahwa “Program Pemerintah Baku Tipu Saja”, demikian ungkap Ketua GAMKI Batam selaku penanggap di Nobar dan Diskusi tersebut.


Direktur LBH Mawar Saron Batam menambahkan terkait _Pasal 11 UU Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia_ menyatakan bahwa: 


Pasal 11_ Setiap orang berhak atas pemenuhan kebutuhan dasarnya untuk tumbuh dan berkembang secara layak, Karena Negara Kita Menghormati Hak Asasi Manusia sehingga kiranya Negara bisa hadir untuk lebih memperhatikan tentang Hak hak dasar bagi masyarakat disana sebagaimana diatur dalam Pasal 11 Undang-undang No 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia.


Sementara ketua Plt Pemuda Katolik Komcab Batam Roy Manik menyampaikan tanggapannya bahwa perhatian terhadap isu Papua dan kelestarian lingkungan sejalan dengan ajaran sosial Gereja Katolik sebagaimana tertuang dalam Ensiklik Laudato si' dari Paus Fransiskus. Ensiklik dengan frasa asli Italia “Laudato si’, mi Signore” yang berarti “Terpujilah Engkau, Tuhanku” tersebut mengajak seluruh umat manusia memandang bumi sebagai “rumah kita bersama” yang wajib dirawat dan dilindungi.


Roy Manik menegaskan bahwa persoalan lingkungan, masyarakat adat, dan kemanusiaan di Papua tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Menurutnya, pembangunan harus tetap memperhatikan martabat manusia, keberlanjutan lingkungan hidup, serta hak masyarakat adat sebagai pemilik ruang hidup di tanah Papua.



Sementara  itu Uba Sigalingging dengan detail menyampaikan;

Pertama-tama, saya menyampaikan apresiasi kepada GAMKI kota Batam yang telah menginisiasi nonton bareng Film Pesta Babi.


Dari film Pesta Babi ini kita mendapatkan pesan bagaimana kekuasaan yang berkolusi dengan kuasa modal menghancurkan alam (ekologi). Tidak ada lagi penghormatan terhadap bumi dan manusia. Atas nama negara dan kepentingan modal, penguasa bisa melakukan apa pun yang nereka anggap mengungungkan dirinya. 


Sebagai manusia yang memiliki akal budi dan pikiran, kita mendapat pengalaman yang sangat menyakitkan, yaitu dengan menyaksikan penghancuran dan pemusnahan peradaban. Sungguh-sungguh tidak rasa hormat terhadap alam dan peradaban manusia.


Kekayaan alam dikeruk atas nama kepentingan negara, namun setiap hari kita disuguhi berita tentang utang negara yang terus bertambah. Hal ini memaksa kira bertanya, untuk kepentingan siapa sebenarnya sumber daya alam dan investasi negara tersebut ditujukan?


Disisi lain, kita menyaksikan praktek ketidakadilan yang terang- benderang. Rakyat yang seharusnya mendapatkan perlindungan negara, justru dipaksa tersingkir dari habitat sosial, ekonomi dan budayanya. Situasi ini mengingatkan kita atas atas pesan Keadilan yang disampaikan oleh Desmond Tutu, Uskup Anglikan dan Teolog besar Afrika Selatan yang mengatakan, "Jika Anda bersikap netral dalam situasi ketidakadilan, Anda telah memilih pihak penindas".


Atas pertimbangan kemanusiaan, kita harus memberikan dukungan dan perlawanan terhadap praktek-praktek penindasan terhadap masyarakat dan perusakan ekologi.

Ada banyak cara dalam memberikan dukungan, salah satunya adalah menyuarakan praktek-praktek ketidakadilan dan penindasan. Termasuk juga dengan dukungan melalui doa kepada masyarakat yang tertindas.


Film yang berdurasi hampir 2 jam ini juga mengajak kita untuk melihat persoalan yang lebih luas dan fundamental. Setidaknya ada tiga perspektif yang bisa kita kembangkan yang terkait dengan filn tersebut, yaitu Perspektif Keadilan Ekologi.


3 PERSPEKTIF UTAMA


1. TEOLOGI PEMBEBASAN

“Jeritan Orang Miskin dan Jeritan Bumi”


Masalah: Sistem ekstraktivisme & neoliberalisme menindas orang miskin dan merusak alam sekaligus.

Akar Ide: Bumi adalah Pachamama / ciptaan Tuhan. Punya martabat, bukan cuma sumber daya.

Solusi:

* Ekonomi solidaritas, agroforestri, perlindungan masyarakat adat

* Perubahan struktural + pertobatan ekologi

* Opsi preferensial untuk yang paling rentan

Tokoh: Leonardo Boff, Ivone Gebara, Paus Fransiskus

Rujukan: Ensiklik Laudato Si’ 2015, Sinode Amazon 2019

Kata Kunci: Keadilan sosial-ekologi, dosa struktural, perawatan rumah bersama


2. KARL MARX – METABOLIC RIFT


“Kapitalisme Memutus Siklus Alam”


Masalah: Kapitalisme memisahkan manusia dari tanah dan merusak metabolisme material alam demi akumulasi modal.


Akar Ide: Logika pertumbuhan tanpa batas bertabrakan dengan kemampuan alam untuk regenerasi. Biaya kerusakan dibuang sebagai eksternalitas.


Solusi:

* Kontrol demokratis atas produksi & sumber daya alam

* Rekoneksi produsen dengan tanah

* Produksi untuk kebutuhan manusia, bukan profit

Tokoh: Karl Marx, John Bellamy Foster

Rujukan: Capital Vol. 1, konsep metabolic rift


Kata Kunci: Metabolisme sosial-alam, keterasingan, eksternalitas


3. NAOMI KLEIN

“Kapitalisme vs Iklim”


Masalah: Neoliberalisme deregulasikan butuh pertumbuhan tak terbatas. Itu bertentangan dengan batas planet.


Akar Ide: Solusi pasar seperti pasar karbon & greenwash gagal. Yang terjadi justru ekstraksi ekstrem.

Solusi:

* Gerakan sosial massal “Blockadia” untuk blokir proyek fosil

* Transisi ke energi terbarukan & ekonomi regeneratif lokal

* Keadilan iklim global

Tokoh: Naomi Klein

Rujukan: This Changes Everything: Capitalism vs. the Climate 2014

Kata Kunci: Blockadia, extractivism, disaster capitalism


BENANG MERAH

1. Krisis ekologi bukan masalah teknis, tapi politik dan sistemik.

2. Keadilan untuk manusia dan keadilan untuk alam tidak bisa dipisah.

3. Solusi butuh perubahan struktural, bukan cuma perubahan gaya hidup individu.