.
Barometerkepri.com | Batam, Ratusan pemuda/i kota Batam memadati Gedung Serbaguna HKBP Galatia Sagulung.
Mereka mengikuti kegiatan edukasi literasi digital yang digelar Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) Batam, Jumat (19/12/2025) sore.
Antusiasme peserta terlihat saat menyimak paparan dua narasumber yang membahas tuntas tentang bahaya hoaks, kejahatan siber, dan penipuan online.
Kegiatan bertema "Literasi Digital : Penanganan Hoaks, Kejahatan Siber, dan Penipuan Online" ini merupakan inisiasi kolaboratif GAMKI Batam bersama Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) untuk membekali generasi muda khususnya pemuda pemudi di Kota Batam dalam dunia digital.
Untuk memastikan materi yang disampaikan berkualitas, GAMKI menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang berbeda namun saling melengkapi.
Narasumber pertama, Rini Lisbet Sitio, seorang founder Komunitas Digital Kreatif (KDK) yang juga dikenal sebagai aktivis perempuan.
Dengan pengalaman panjang di bidang pemberdayaan masyarakat digital, Rini memaparkan teknik membangun kesadaran kritis terhadap informasi yang beredar di media sosial dan memverifikasi kebenaran sebuah informasi.
"Sebagai pemuda Kristen, kita punya tanggung jawab moral untuk tidak menyebarkan informasi yang belum jelas kebenarannya."
"Alkitab mengajarkan kita untuk mencintai kebenaran. Maka di dunia digital pun, kita harus menjadi penyebar kebenaran, bukan hoaks," ujar Rini membuka presentasinya.
Ia menekankan pentingnya sikap kritis terhadap setiap informasi yang diterima, terutama di grup-grup WhatsApp keluarga dan komunitas yang sering menjadi ladang subur penyebaran hoaks.
"Sebelum forward pesan di grup WhatsApp, tanyakan pada diri sendiri. Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini membangun atau malah memecah belah? Jika jawabannya tidak, maka jangan disebarkan," katanya.
Narasumber kedua, Beres Lumbantobing, jurnalis Tribun Batam yang memiliki pengalaman luas di dunia jurnalistik.
Beres membagikan perspektif dari sudut pandang jurnalis tentang bagaimana hoaks diproduksi, disebarkan, dan dampaknya terhadap masyarakat.
"Sebagai jurnalis, saya setiap hari berhadapan dengan informasi. Saya melihat bagaimana hoaks bisa memecah belah masyarakat, merusak reputasi seseorang, bahkan menyebabkan konflik sosial."
"Maka literasi digital bukan hanya soal skill teknis, tapi juga soal karakter dan integritas," ungkap Beres.
Beres memberikan tips praktis mengenali ciri-ciri berita palsu seperti judul sensasional dengan tanda seru berlebihan, tidak mencantumkan sumber yang jelas, menggunakan foto yang tidak relevan, dan bahasa yang provokatif.
"Hoaks itu selalu memainkan emosi kita marah, takut, atau benci. Kalau kita baca sesuatu dan langsung emosi, itu warning pertama untuk stop dan cek dulu kebenarannya," jelas Beres.
Terkait penipuan online, Beres membagikan pengalaman investigasinya terhadap berbagai modus penipuan yang merugikan masyarakat.
"Sebelum forward pesan di grup WhatsApp, tanyakan pada diri sendiri. Apakah ini benar? Apakah ini bermanfaat? Apakah ini membangun atau malah memecah belah? Jika jawabannya tidak, maka jangan disebarkan," katanya.
Narasumber kedua, Beres Lumbantobing, jurnalis Tribun Batam yang memiliki pengalaman luas di dunia jurnalistik.
Beres membagikan perspektif dari sudut pandang jurnalis tentang bagaimana hoaks diproduksi, disebarkan, dan dampaknya terhadap masyarakat.
"Sebagai jurnalis, saya setiap hari berhadapan dengan informasi. Saya melihat bagaimana hoaks bisa memecah belah masyarakat, merusak reputasi seseorang, bahkan menyebabkan konflik sosial."
"Maka literasi digital bukan hanya soal skill teknis, tapi juga soal karakter dan integritas," ungkap Beres.
Beres memberikan tips praktis mengenali ciri-ciri berita palsu seperti judul sensasional dengan tanda seru berlebihan, tidak mencantumkan sumber yang jelas, menggunakan foto yang tidak relevan, dan bahasa yang provokatif.
"Hoaks itu selalu memainkan emosi kita marah, takut, atau benci. Kalau kita baca sesuatu dan langsung emosi, itu warning pertama untuk stop dan cek dulu kebenarannya," jelas Beres.
Terkait penipuan online, Beres membagikan pengalaman investigasinya terhadap berbagai modus penipuan yang merugikan masyarakat.
Kegiatan yang berlangsung selama beberapa jam ini dikemas secara interaktif dengan pemaparan materi, diskusi, serta sesi tanya jawab yang melibatkan peserta secara aktif.
Para peserta yang mayoritas pemuda-pemudi yang aktif di berbagai gereja di Kota Batam tampak antusiasme sepanjang acara. Mereka aktif bertanya dan berdiskusi tentang pengalaman.egiatan yang berlangsung selama beberapa jam ini dikemas secara interaktif dengan pemaparan materi, diskusi, serta sesi tanya jawab yang melibatkan peserta secara aktif.
Para peserta yang mayoritas pemuda-pemudi yang aktif di berbagai gereja di Kota Batam tampak antusiasme sepanjang acara. Mereka aktif bertanya dan berdiskusi tentang pengalaman.
(Rini/Red)



