.
Barometerkepri.com | Batam, Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Batam saat ini membina sebanyak 1.218 warga binaan pemasyarakatan (WBP) melalui program pembinaan kepribadian dan kemandirian.
Hal itu disampaikan Purwanto, Pelaksana Harian (Plh) Kepala Kesatuan Pengamanan Lembaga Pemasyarakatan (KPLP) Batam, Rabu (09/09/2026). Ia ditunjuk menjalankan tugas sementara selama pejabat definitif mengikuti Diklat PKA Pelatihan Kepemimpinan Administrasi di Yogyakarta.
Menurutnya, pembinaan kepribadian meliputi kegiatan keagamaan dan kepramukaan. Sementara pembinaan kemandirian dilaksanakan melalui berbagai kegiatan produktif yang dikelola Seksi Kegiatan Kerja.
Sejumlah kegiatan tersebut antara lain produksi tempe dan roti, mebel, pertanian, perikanan, peternakan, laundry, barbershop, menjahit, pengelasan serta kerajinan tangan seperti miniatur kapal dan lukisan.
“Pembinaan kemandirian ini kami lakukan untuk memberikan bekal kepada warga binaan agar mereka memiliki keterampilan ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Selain keterampilan kerja, Lapas Batam juga menjalankan program ketahanan pangan melalui kegiatan pertanian, perikanan dan peternakan. Hasil produksi sebagian dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur Lapas melalui kerja sama dengan mitra penyedia bahan makanan.
Menurutnya, program tersebut sejalan dengan upaya pemerintah mendorong ketahanan pangan sekaligus meningkatkan produktivitas warga binaan.
Namun, pelaksanaan pembinaan masih menghadapi keterbatasan petugas, anggaran serta sarana dan prasarana. Karena itu, Lapas Batam berharap adanya dukungan dan kolaborasi dengan berbagai pihak, khususnya dunia usaha di Batam.
Dukungan tersebut diharapkan dapat berupa penyediaan peralatan maupun pelatihan keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dunia industri, sehingga warga binaan memiliki kompetensi yang lebih relevan ketika kembali ke masyarakat.
“Batam ini kota industri. Kami berharap ada dukungan dan kerja sama dari pihak swasta untuk meningkatkan skill warga binaan,” katanya.
Ia menegaskan, kegiatan pembinaan di Lapas bukan sekadar mengisi waktu selama warga binaan menjalani masa pidana, tetapi menjadi bagian dari persiapan agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara produktif di tengah masyarakat.
“Ini yang kami kerjakan di Lapas sebagai wujud pembinaan, supaya mereka punya bekal ketika kembali ke masyarakat,” pungkasnya.
(Red)


