.
Barometerkepri.com | Batam diduga tidak lagi sekadar menjadi tempat singgah. Kota perbatasan ini perlahan disebut berubah menjadi salah satu basis operasi jaringan judi online, scam, dan phising e-commerce berskala internasional.
Penelusuran Tim Investigasi Batamnews menemukan dugaan adanya puluhan titik aktivitas jaringan tersebut di Kepulauan Riau. Sebagian berada di Kabupaten Karimun dan Tanjungpinang. Namun konsentrasi terbesar berada di Batam.
Lokasinya menyebar. Mulai dari Nongsa, Lubuk Baja, Batam Kota, Mukakuning, hingga Sekupang. Dari sejumlah titik itu, wilayah Lubuk Baja disebut menjadi salah satu kawasan paling padat aktivitas. Termasuk di kawasan Panbil dan Sukajadi hingga Bukit Permata. Modusnya tidak selalu tampak mencolok. Dari luar, sejumlah lokasi terlihat seperti kantor biasa. Ada yang berkedok usaha jasa, perdagangan, teknologi, hingga bisnis formal lainnya. Namun di balik aktivitas itu, diduga berlangsung operasi judi online, penipuan digital, dan phising e-commerce.
Batamnews menemukan sejumlah titik yang disebut berkaitan dengan jaringan tersebut. Di antaranya berada di kawasan ruko Sei Panas, Komplek Orchid, Simpang Kara, Southlink, Tanjunguma, Mukakuning, Palm Spring, hingga beberapa lokasi lain. Jejak jaringan ini diduga sudah berjalan beberapa tahun terakhir. Mereka tidak hanya mengoperasikan sistem penipuan digital. Uang hasil kejahatan juga diduga diputar melalui sejumlah perusahaan dan bisnis.
Dari penelusuran sementara, ada belasan perusahaan yang terdeteksi diduga menjadi tempat pencucian uang. Selain itu, ada pula belasan usaha lain yang diduga dipakai untuk menampung, memutar, atau menyamarkan aliran dana. Jaringan ini disebut dikendalikan sejumlah warga negara asing asal Tiongkok. Namun mereka tidak bekerja sendiri. Sejumlah pengusaha lokal diduga ikut berperan sebagai penghubung, penyedia tempat, hingga penjaga kepentingan jaringan di daerah
Salah satu aktivitas jaringan ini baru-baru ini terbongkar saat petugas Imigrasi Batam melakukan penindakan di Baloi View Apartel, kawasan Baloi, Lubuk Baja. Di lokasi itu, petugas menemukan 210 warga negara asing dari sejumlah negara Asia Tenggara dan Tiongkok. Mereka diduga bagian dari jaringan scam internasional. Informasi yang dihimpun Batamnews menyebut, sebagian dari mereka merupakan jaringan lama yang sebelumnya beroperasi di Kamboja.
Nama Alvin disebut-sebut sebagai salah satu pengendali lapangan. Ia disebut merupakan pemuda asal Tanjungpinang. Namun Alvin diduga bukan aktor tunggal. Di atasnya, ada empat bos besar asal Tiongkok yang diduga mengendalikan jaringan tersebut. Mereka disebut-sebut sebagai buronan Interpol dari Kamboja.
Di atasnya, ada empat bos besar asal Tiongkok yang diduga mengendalikan jaringan tersebut. Mereka disebut-sebut sebagai buronan Interpol dari Kamboja. Batam kemudian diduga menjadi tempat baru bagi jaringan ini untuk bergerak. Polanya mirip dengan praktik yang pernah berkembang di Kamboja, yakni memanfaatkan gedung tertutup, apartemen, ruko, hingga perusahaan-perusahaan kamuflase untuk menjalankan bisnis kriminal digital.
Kamboja selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang pernah menjadi basis besar jaringan scam internasional di Asia Tenggara. Ketika sejumlah negara mulai memperketat pengawasan, jaringan serupa diduga bergeser ke wilayah lain yang dianggap strategis.
Batam menjadi salah satu pilihan. Posisi kota ini dekat dengan Singapura dan Malaysia. Akses keluar masuk orang relatif terbuka. Aktivitas bisnis asing juga cukup padat. Kondisi ini diduga dimanfaatkan jaringan kriminal lintas negara untuk menyamarkan aktivitas mereka.
Sumber Batamnews menyebut, para operator bekerja dalam sistem tertutup. Sebagian diduga ditempatkan di apartemen, ruko, dan bangunan komersial. Mereka bekerja dengan perangkat komputer dan ponsel. Targetnya tidak hanya pemain judi online, tetapi juga korban penipuan digital melalui berbagai platform.
Dalam beberapa kasus, korban diarahkan masuk ke situs atau aplikasi tertentu. Ada pula yang dijebak melalui modus investasi, transaksi e-commerce, hingga layanan palsu. Setelah korban percaya, dana mereka dikuras.
Aktivitas ini diduga menghasilkan uang dalam jumlah besar. Dana tersebut kemudian diputar melalui usaha legal. Mulai dari bisnis hiburan, properti, perdagangan, hingga perusahaan yang terlihat normal secara administrasi.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana jaringan sebesar ini bisa bertahan bertahun-tahun di Batam?
Sebab, lokasi-lokasi yang disebut sebagai markas jaringan bukan berada di wilayah terpencil. Sebagian berada di kawasan padat, dekat pusat bisnis, dan tidak jauh dari aktivitas publik.
Jika benar jaringan ini menggurita, maka persoalannya bukan hanya soal penindakan terhadap para operator. Negara juga perlu menelusuri siapa penyedia tempat, siapa pemilik perusahaan, siapa penghubung lokal, dan ke mana saja uang hasil kejahatan itu mengalir.
Penindakan di Baloi View Apartel bisa menjadi pintu masuk. Namun itu baru satu titik dari jaringan yang diduga jauh lebih besar. Batamnews masih berupaya meminta konfirmasi kepada pihak terkait mengenai dugaan keterlibatan para pengendali jaringan, termasuk dugaan keberadaan buronan Interpol asal Tiongkok yang disebut pernah beroperasi di Kamboja.
Kasus ini menjadi alarm serius bagi Batam dan Kepulauan Riau. Jika tidak dibongkar sampai ke akar, Batam berisiko menjadi tempat aman bagi jaringan kriminal digital internasional. Bukan hanya merusak citra kota investasi. Jaringan ini juga bisa menyeret banyak sektor: keimigrasian, perizinan usaha, properti, aparat keamanan, hingga sistem keuangan.
Batam tidak boleh dibiarkan menjadi “Kamboja baru” bagi jaringan judi online dan scam internasional.
Sumber : Media Online Japos.co / Media Online Simakkepri.com

