.
Barometerkepri.com | Batam, Kisruh pelayanan penyeberangan di Pelabuhan Roro Mengkapan kembali memakan korban. Seorang sopir angkutan barang jenis L300, Kristopel Siregar, mengaku mendapat perlakuan kasar hingga bogem mentah dari seorang petugas pelabuhan bernama Endro, saat hendak naik kapal roro pada Kamis, 8 Januari 2026.
Ironisnya, informasi yang dihimpun Kristopel telah mengantongi tiket resmi jadwal keberangkatan. Namun meski telah memenuhi prosedur administrasi, kendaraan logistik yang dikemudikannya tetap tidak bisa naik, bahkan berujung pada tindakan kekerasan fisik.
Menurut pengakuan Heriyanto Siregar saudara Kristopel, situasi di pelabuhan saat itu sudah sangat tegang akibat pemberlakuan hanya satu kapal yang beroperasi. Petugas dan sopir kendaraan terlibat adu mulut.
" Sudah pegang tiket, tapi kendaraan saya tetap tak bisa naik. Bukan cuma ditolak, saya malah dipukul,” ujar Heriyanto saudara Kristopel kepada awak media, Kamis malam, (8 /1/2026) pukul 23.47 WIB melalui sambungan telepon selularnya.
Peristiwa ini mempertegas bahwa kebijakan satu kapal beroperasi di masa arus balik pasca-Nataru telah menciptakan situasi chaos, memicu emosi, pertengkaran antarpenumpang, bahkan kekerasan terbuka di area pelabuhan. Banyak pihak menilai kondisi tersebut sebagai bom waktu konflik akibat buruknya manajemen layanan penyeberangan.
Atas kejadian tersebut, Kristopel Siregar resmi melaporkan dugaan penganiayaan ke Polsek Mengkapan. Laporan itu dibenarkan oleh pihak pelabuhan maupun kepolisian setempat.
Kepala Supervisi Lintasan Mengkapan, Edy, saat dikonfirmasi membenarkan adanya keributan antara sopir dan petugas pelabuhan.
" Iya bang, memang ada keributan antara penumpang dan petugas,” ujarnya.
Namun Edy memberikan versi berbeda terkait pemicu insiden. Menurutnya, pihak pelabuhan sebenarnya telah menyediakan satu slot (space) untuk kendaraan L300 tersebut. Akan tetapi, kendaraan dinilai tidak memenuhi syarat teknis muat.
" Kendaraan L300 itu terlalu panjang dan membawa motor di bagian belakang. Kami sudah coba tutup pintu kapal, tapi tidak bisa. Motor di belakang juga sudah diminta diturunkan, tapi tetap tidak memungkinkan,” jelas Edy.
Ia menambahkan, sopir disebut bersikeras tidak mau menurunkan kendaraan maupun muatan, sehingga kapten kapal dan chief officer (chief) turun langsung untuk membujuk. Namun upaya tersebut gagal dan situasi justru memanas.
" Karena sopir ngotot, emosi penumpang dan petugas terpancing. Akhirnya terjadi keributan,” katanya.
Terkait dugaan pemukulan, Edy mengakui bahwa Kristopel telah membuat laporan polisi.
“Ya, korban sudah membuat laporan ke polsek. Kami menerimanya,” ucap Edy dengan nada pasrah.
Cermin Buruknya Tata Kelola
Insiden ini kembali menyoroti buruknya tata kelola layanan penyeberangan roro, khususnya di Pelabuhan Mengkapan. Ketidakjelasan standar teknis muatan, minimnya armada, serta pendekatan represif petugas di lapangan dinilai memperparah penderitaan masyarakat pengguna jasa.
Publik mendesak agar operator pelabuhan, ASDP, dan otoritas terkait segera melakukan evaluasi menyeluruh. Tanpa perbaikan manajemen dan penambahan armada, konflik horizontal antarpenumpang dan kekerasan oleh aparat di lapangan dikhawatirkan akan terus berulang—menjadikan pelabuhan bukan lagi ruang layanan publik, melainkan arena ketegangan dan ketidakadilan.
Hingga berita ini diunggah, awak media ini masih berupaya melakukan konfirmasi ke pihak ASDP cabang Batam telaga Punggur.
(Tim/red)



