Iklan

BAROMETER KEPRI
Minggu, 30 November 2025, November 30, 2025 WIB
Last Updated 2025-11-30T09:48:13Z
Opini

Semesta yang Menyimpan Air Mata Morenta

.

 


Dia bernama Morenta Namanya Bak pelangi yang muncul setelah hujan, meskipun hujan itu tak pernah sepenuhnya hilang dari kehidupannya._

 

Ada seorang gadis yang tumbuh bukan di taman yang rapi, melainkan di antara reruntuhan badai yang datang terlalu seringuntuk usia sekecil itu.

 

Sebelum ia melihat dunia, ayahnya sudah terbaring di ranjang rumah sakit'di ruang yang dinginnya menggores tulang, dengan pembuluh darah pecah dan nyawa yang digantungkan pada alat-alat yang berbunyi pelan.

 

Ibu menjual rumah, menggadaikan harta,menukar masa depan demi satu harapan kecil: agar ayah kembali pulang.Dan di tengah kepanikan itu,

dalam kandungan yang bergetar antara doa dan ketakutan, Morena tumbuh menjadi alasan, alasan seorang ibu memilih bertahan ketika dunia memaksanya menyerah.

 

Kakaknya—anak ceria yang dulu berlari-lari riang jatuh, terbentur, kejang-kejang.Sarafnya melambat, masa kecilnya berubah menjadi ruang terapi yang tak pernah ia minta.

Di satu sisi ayah melawan kematian,di sisi lain kakak melawan tubuhnya sendiri. Dan di tengah itu semua, ada seorang ibuyang menahan seluruh dunia di dalam jantungnya.

 

Ketika Morena lahir, bukan hanya air ketuban yang pecah, tetapi juga mujizat. Ayah yang dulu tak berdaya bangkit perlahan-lahan, seakan Tuhan menukar kehidupan baru dengan kesempatan kedua.Dan akhirnya, kakaknya juga sembuh.

 

Tetapi dalam hidup,badai jarang berhenti hanya dengan satu petir. Setelah ayah dan kakak pulih sepenuhnya, akhirnya giliran ibu, delapan tahun, delapan tahun tubuhnya ditikam sakit lupus dan autoimunyang mencuri tenaganya hari demi hari.

Dan Morenta tumbuh cepat, lebih cepat dari masa kanak-kanak yang seharusnya ia miliki.

 

Ia tahu rasa takut sebelum tahu rasa percaya diri. Ia tahu air mata sebelum tahu arti merayakan diri. Ia belajar merantau, meninggalkan rumah yang rapuh demi mencari hidup yang lebih kokoh.

Batam menjadi tempat ia menulis ulang langkahnya. Ia mencari pekerjaan seperti orang mencari pintu keluar dari ruangan yang tak ada jendelanya.

 

Dan ketika akhirnya ia mendapat pekerjaan,belum sebulan ia berdiri tegak di kehidupan barunya, dunia justru mengambil tanah dari bawah kakinya.

 

November 2025. Tanah kampungnya dilahap bencana, air naik, rumah hanyut, bukit runtuh, jalan tercerai-berai.

Ayah di sana. Ibu yang sudah delapan tahun sakit di sana. Kakaknya yang sudah sembuh, di sana. Ia menelepon… sunyi. Ia mencoba lagi… tak ada nada sambung. Jaringan putus,tapi cemasnya tersambung kepada seluruh semesta.

 

Ia duduk dalam kamar kontrakan kecilnya,dengan tubuh yang lebih lelah daripada yang ia akui. Tangan gemetar,napas patah-patah,doa yang tak tahu harus dimulai dari kata apa.

 

Ia ingin kuliah!!

oh, betapa ia ingin kuliah. Ia ingin memegang gelar dan berkata pada dunia:

“Aku berhasil meski kecil kemungkinan berpihak padaku.”

Tetapi ia juga tahu, ada ayah yang sudah terlalu banyak kehilangan, ada ibu yang tak bisa berjalan sendiri, ada kakak yang masih membutuhkan perawatan.

Mimpinya harus ditahan agar keluarganya tetap hidup.

 

Terkadang ia berpikir: “Apakah aku dilahirkan untuk diuji?”Tetapi setiap kali pikiran itu muncul,

ada bisikan halus dari langit:

“Tidak. Kau dilahirkan untuk menjadi kuat.”

 

Ia menangis malam itu, bukan karena lemah, tetapi karena manusia mana yang tidak takut kehilangan orang yang ia cintai?

 

Dalam tangisnya ia menengadah,mata sembab memandang atap yang kusam:

“Ya Tuhan… jika Engkau tak bisa mengurangi badaiku, maka tambahkanlah kekuatanku. Jika Engkau tak bisa menenangkan alam, maka tenangkanlah hatiku.”

 

Dan entah bagaimana, meski kabar belum datang, meski gelap belum pecah, ada sedikit cahaya yang menyelinap di balik dadanya. Kecil. Lemah. Tapi nyata.

 

Cahaya itu berkata:

“Semesta tidak membencimu, anak baik. Ia hanya sedang membentukmu.”

 

Bencana yang menghantam kampungnya tidak akan mencuri masa depannya. Rindu yang menyesakkan dadanya tidak akan mematahkan tekadnya. Dan suatu hari nanti, ketika badai berubah menjadi cerita lama, ia akan berkata pada dirinya sendiri: “Aku pernah takut,

aku pernah jatuh, aku pernah merasa sendirian tetapi Tuhan tidak pernah pergi. Semesta tidak pernah menutup pintunya.”

 

Dan di hari itu, Morenta akan berdiri bukan sebagai gadis yang menangis di perantauan, tetapi sebagai perempuan yang bertahan dari badai yang seharusnya menjatuhkannya.

 

Karena harapan, sekecil apa pun, tetaplah nyala yang mampu melawan seluruh gelap dunia.

 Dan selama ia masih memiliki harapan itu, semesta akan terus berputar mengantar langkahnya menuju hari yang lebih terang.


Penulis : Ruddin Sihombing